NAMA : INNE HANANDITA SUPRIYANTO
NPM : 23215385
KELAS : 1EB17
FAKULTAS/JURUSAN : EKONOMI / S-1 AKUNTANSI
TUGAS : KE-7 PEREKONOMIAN INDONESIA (#Softskill)
SEKTOR PERTANIAN
SEKTOR
PERTANIAN DI INDONESIA
Pertanian adalah salah satu
sektor dimana didalamnya terdapat penggunaan sumberdaya hayati untuk
memproduksi suatu bahan pangan,bahan baku industri dan sumber energi. Bagian
terbesar penduduk dunia adalah bermata pencaharian dalam bidang – bidang
pertanian dan pertanian juga mencakup berbagai bidang,tetapi pertanian hanya
menyumbang 4% dari PDB dunia.
Amerika Serikat pada awal 1900-an
40 persen masyarakatnya bekerja di sektor pertanian, namun pada 1940-an
jumlahnya menurun hingga 2,5 persen dan saat ini tinggal dua persen.
Begitupula di Perancis lanjut
Pengamat Pasar Modal tersebut, angkatan kerja di sektor pertanian hanya dua
persen.
Sejarah Indonesia sejak masa
kolonial sampai sekarang tidak dapat dipisahkan dari sektor pertanian dan
perkebunan, karena sektor – sektor ini memiliki arti yang sangat penting dalam
menentukan pembentukan berbagai realitas ekonomi dan sosial masyarakat di berbagai
wilayah Indonesia. Berdasarkan data BPS tahun 2002, bidang pertanian di
Indonesia menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 44,3% penduduk meskipun hanya
menyumbang sekitar 17,3% dari total pendapatan domestik bruto.
Seiring dengan transisi
(transformasi) struktural ini sekarang kita menghadapi berbagai permasalahan.
Di sektor pertanian kita mengalami permasalahan dalam meningkatkan jumlah
produksi pangan, terutama di wilayah tradisional pertanian di Jawa dan luar
Jawa. Hal ini karena semakin terbatasnya lahan yang dapat dipakai untuk
bertani. Perkembangan penduduk yang semakin besar membuat kebutuhan lahan untuk
tempat tinggal dan berbagai sarana pendukung kehidupan masyarakat juga
bertambah. Perkembangan industri juga membuat pertanian beririgasi teknis
semakin berkurang.
Selain berkurangya lahan
beririgasi teknis, tingkat produktivitas pertanian per hektare juga relatif
stagnan. Salah satu penyebab dari produktivitas ini adalah karena pasokan air
yang mengairi lahan pertanian juga berkurang. Banyak waduk dan embung serta
saluran irigasi yang ada perlu diperbaiki. Hutan-hutan tropis yang kita miliki
juga semakin berkurang, ditambah lagi dengan siklus cuaca El Nino-La Nina
karena pengaruh pemanasan global semakin mengurangi pasokan air yang dialirkan
dari pegunungan ke lahan pertanian.
Kelompok ilmu-ilmu pertanian
mengkaji pertanian dengan dukungan ilmu-ilmu pendukungnya. Inti dari ilmu-ilmu
pertanian adalah biologi dan ekonomi. Karena pertanian selalu terikat dengan
ruang dan waktu, ilmu-ilmu pendukung, seperti ilmu tanah, meteorologi,
permesinan pertanian, biokimia, dan statistika, juga dipelajari dalam
pertanian.
Semua usaha pertanian pada
dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan
yang sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih/bibit, metode
budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk, pengolahan dan pengemasan
produk, dan pemasaran. Apabila seorang petani memandang semua aspek ini dengan
pertimbangan efisiensi untuk mencapai keuntungan maksimal maka ia melakukan
pertanian intensif (intensive farming). Usaha pertanian yang dipandang dengan
cara ini dikenal sebagai agribisnis. Program dan kebijakan yang mengarahkan
usaha pertanian ke cara pandang demikian dikenal sebagai intensifikasi. Karena
pertanian industrial selalu menerapkan pertanian intensif, keduanya sering kali
disamakan.
NILAI
TUKAR PETANI
PENGERTIAN
UMUM :
Ø NTP merupakan indikator proxy
kesejahteraan petani
Ø NTP merupakan perbandingan antara
Indeks harga yg diterima petani (It) dengan Indeks harga yg dibayar petani (Ib)
Arti
Angka NTP :
·
NTP >
100, berarti petani mengalami surplus. Harga produksi naik lebih besar dari
kenaikan harga konsumsinya. Pendapatan petani naik lebih besar dari
pengeluarannya.
·
NTP = 100,
berarti petani mengalami impas. Kenaikan/penurunan harga produksinya sama
dengan persentase kenaikan/penurunan harga barang konsumsi. Pendapatan petani
sama dengan pengeluarannya.
·
NTP< 100,
berarti petani mengalami defisit. Kenaikan harga produksi relatif lebih kecil
dibandingkan dengan kenaikan harga barang konsumsinya. Pendapatan petani turun,
lebih kecil dari pengeluarannya.
Kegunaan
dan Manfaat
Ø Dari Indeks Harga Yang Diterima
Petani (It), dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dihasilkan
petani. Indeks ini digunakan juga sebagai data penunjang dalam penghitungan
pendapatan sektor pertanian.
Ø Dari Indeks Harga Yang Dibayar
Petani (Ib), dapat dilihat fluktuasi harga barang-barang yang dikonsumsi oleh
petani yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat di pedesaan, serta
fluktuasi harga barang yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.
Perkembangan Ib juga dapat menggambarkan perkembangan inflasi di pedesaan.
Ø NTP mempunyai kegunaan untuk
mengukur kemampuan tukar produk yang dijual petani dengan produk yang
dibutuhkan petani dalam produksi dan konsumsi rumah tangga.
Ø Angka NTP menunjukkan tingkat
daya saing produk pertanian dibandingkan dengan produk lain. Atas dasar ini
upaya produk spesialisasi dan peningkatan kualitas produk pertanian dapat
dilakukan.
Cakupan
Komoditas
·
Sub Sektor
Tanaman Pangan seperti: padi, palawija
·
Sub Sektor
Hortikultura seperti : Sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias & tanaman
obat-obatan
·
Sub Sektor
Tanaman Perkebunan Rakyat (TPR) seperti: kelapa, kopi robusta, cengkeh,
tembakau, dan kapuk odolan. Jumlah komoditas ini juga bervariasi antara daerah
·
Sub Sektor
Peternakan seperti : ternak besar (sapi, kerbau), ternak kecil (kambing, domba,
babi, dll), unggas (ayam, itik, dll), hasil-hasil ternak (susu sapi, telur,
dll)
·
Sub Sektor
Perikanan, baik perikanan tangkap maupun perikanan budidaya
INVESTASI
DI SEKTOR PERTANIAN
Pertanian merupakan sektor primer
dalam perekonomian Indonesia. Artinya pertanian merupakan sektor utama yang
menyumbang hampir dari setengah perekonomian. Pertanian juga memiliki peran
nyata sebagai penghasil devisa negara melalui ekspor. Oleh karena itu perlu
diadakannya pembangunan di dalam sektor pertanian sehingga dapat bersaing di
pasar dalam negeri maupun di luar negeri.
Indonesia berupa lahan pertanian
juga merupakan aset penting untuk agrowisata. Dengan pengolahan yang baik hasil
perkebunan ini dan pemeliharaan terhadap kebersihan dan keindahannya, maka
nilai agrowisatanya akan memberikan devisa yang cukup tinggi bagi negara.
Terjadinya krisis ekonomi yang
melanda Indonesia pada pertengahan 1997 menunjukkan bahwa sektor pertanian
dapat bertahan dari sektor yang dibangga-banggakan pada tahun tersebut yaitu
sektor industri. Bahkan sektor pertanian mengalami pertumbuhan sebesar 0,22%.
Padahal perekonomian Indonesia pada saat itu mengalami penurunan pertumbuhan
sekitar 13,68%.
Pertanian dapat dilihat sebagai
suatu yang sangat potensial dalam empat bentuk kontribusinya terhadap
pertumbuhan dan pembangunan ekonomi nasional yaitu sebagai berikut:
• Ekspansi dari sektor-sektor
ekonomi lainnya sangat tergantung pada pertumbuhan output di bidang pertanian,
baik dari sisi permintaan maupun penawaran • sebagai sumber bahan baku bagi
keperluan produksi di sektor-sektor lain seperti industri manufaktur dan
perdagangan.
• Pertanian berperan sebagai
sumber penting bagi pertumbuhan permintaan domestik bagi produk-produk dari
sektor-sektor lainnya.
• Sebagai suatu sumber modal
untuk investasi di sektor-sektor ekonomi lainnya, dan Sebagai sumber penting
bagi surplus perdagangan (sumber devisa).
Pangan menjadi persoalan krusial
di tengah pertumbuhan kebutuhan dan alih fungsi lahan. Salah satu yang bisa mendorong
produktivitas pertanian adalah dengan memperkuat investasi. Sayangnya,
investasi di sektor pertanian masih belum sesuai harapan, padahal potensi
pertanian lebih besar dari sektor lain. Adapun potensi sektor pertanian yang
dimaksud adalah potensi penyediaan pangan berkelanjutan, potensi penyerapan
tenaga kerja, serta potensi sebagai penyedia bahan baku industri. Investasi
dibidang pertanian secara langsung contohnya dengan membeli mesin, dan
investasi secara tidak langsung adalah dengan melakukan penelitian dan
pengembangan.
Investasi di sector pertanian
tergantung pada :
1. Laju pertumbuhan output
2. Tingkat daya saing global komoditi
pertanian
KETERKAITAN
PERTANIAN DENGAN INDUSTRI MANUFAKTUR
Jika mau berkaca dari negara yang
telah lebih dahulu maju dibanding dengan Indonesia, pada awalnya mereka
(negara-negara maju) menitikberatkan pembangunan perekonomian mereka pada
sektor pertanian untuk kemudian dikembangkan dan beralih perlahan-lahan menjadi
sektor industri. Perubahan ini tidak berlangsung secara tiba-tiba melainkan
dengan serangkaian proses yang panjang dan tentunya pertanian dijadikan sebagai
pondasi, baik sebagai penyedia bahan baku maupun modal untuk membangun
industri.
Berkaca pada krisis yang telah
terjadi, proses industrialisasi yang didengung-dengungkan pemerintah kurang
mendapat moment yang tepat. Pada akhirnya Indonesia yang direncanakan akan
menjadi negara industri-dalam waktu yang tidak lama lagi, tidak terwujud hingga
saat sekarang ini.
Melihat kenyataan itu, sudah
seharusnya kita memutarbalikkan kemudi ekonomi untuk mundur selangkah
merencanakan dan kemudian melaksanakan dengan disiplin setiap proses yang
terjadi. Yang terpenting yaitu harus dapat dipastikan bahwa sektor pertanian
mendapat prioritas dalam proses pembangunan tersebut. Mengingat, sampai dengan
saat ini negara-negara maju pun tidak dapat meninggalkan sektor pertanian
mereka, hingga kalau sekarang kita coba melihat sektor pertanian sekelas negara
maju, sektor pertanian mereka mendapat proteksi yang besar dari negara dalam
bentuk subsidi dan bantuan lainnya.
Ada beberapa alasan (yang
dikemukakan oleh Dr.Tulus Tambunan
dalam bukunya Perekonomian Indonesia) kenapa sektor pertanian yang kuat sangat
esensial dalam proses industrialisasi di negara Indonesia, yakni sebagai berikut
:
1.Sektor pertanian yang kuat
berarti ketahanan pangan terjamin dan ini merupakan salah satu prasyarat
penting agar proses industrialisasi pada khususnya dan pembangunan ekonomi pada
umumnya bisa berlangsung dengan baik. Ketahanan pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin
kestabilan sosial dan politik.
2.Dari sisi permintaan agregat,
pembangunan sektor pertanian yang kuat membuat tingkat pendapatan rill per
kapita disektor tersebut tinggi yang merupakan salah satu sumber permintaan
terhadap barang-barang nonfood, khususnya manufaktur. Khususnya di Indonesia,
dimana sebagaina besar penduduk berada di pedesaan dan mempunyai sumber
pendapatan langsung maupun tidak langusng dari kegitan pertanian, jelas sektor
ini merupakan motor utama penggerak industrialisasi.
3.Dari sisi penawaran, sektor
pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor industri yang mana
Indonesia memiliki keunggulan komparatif.
4.Masih dari sisi penawaran,
pembangunan yang baik disektor pertanian bisa menghasilkan surplus di sektor
tersebut dan ini bisa menjadi sumber investasi di sektor industri, khususnya
industri berskala kecil di pedesaan.
Melihat hal itu, sangat penting
untuk kita saling bersinergi dalam meningkatkan produktivitas pertanian.
Pemerintah-dalam hal ini pemangku kebijakan, membuat regulasi yang memiliki
tujuan yang selaras dengan cita-cita bersama, menganggarkan dana untuk
pengembangan pertanian, memberikan pengetahuan dengan jalan memberdayakan
tenaga penyuluh pertanian agar dapat membantu petani dengan maksimal, bank
dalam hal ini penyedia dana publik dapat lebih bersahabat dengan petani, agar
keterbatasan dana dapat teratasi dengan bantuan bank sebagai penyedia dana
dengan bunga yang kecil, perguruan tinggi sangat penting untuk mengadakan
penelitian-penelitian yang masiv dan dapat diaplikasikan langsung untuk
meningkatkan produktivitas pertanian, swasta diharapkan dapat menginvestasikan
modal mereka untuk membuat pabrik-pabrik pengolahan produk-produk pertanian
kita sehingga ketika kita ingin memasarkannya ke luar (ekspor) maka kita akan
dapat menghasilkan pendapatan lebih (karena nilai yang lebih tinggi) dan
tentunya masyarakat (petani) sebagai subjek dapat dengan benar-benar serius
dalam menjalankan setiap program yang diberikan pemerintah (dengan asums :
program yang dibuat oleh pemerintah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan
oleh petani)...
Ketika hal ini berjalan dengan
baik, maka kita dapat meningkatkan produk-produk pertanian kita sejalan dengan
peningkatan industri manufaktur yang membutuhkan bahan baku yang kita produksi dari para
petani-petani kita. Maka dari itu, peningkatan pendapatan para petani akan
berkorelasi positif terhadap meningkatnya kesejahteraan petani dan meningkatkan
pertumbuhan ekonomi.
REFERENSI :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar