NAMA : INNE HANANDITA SUPRIYANTO
NPM : 23215385
KELAS : 1EB17
FAKULTAS/JURUSAN : EKONOMI / S-1 AKUNTANSI
TUGAS : KE-5 PEREKONOMIAN INDONESIA (#Softskill)
KEMISKINAN
DAN KESENJANGAN
KONSEP DAN PENGERTIAN KEMISKINAN
Kemiskinan adalah permasalahan yang
selalu menjadi tugas utama pemerintah untuk di selesaikan. Namun dari tahun
ketahun, tingkat kemiskinan mengalami kenaikan maupun penurunan. Masalah yang
menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintah untuk membenahi negaranya.
Kemiskinan, yang juga menjadi tolak ukur seberapa berhasilkah/ seberapa majukah
suatu Negara. Kemiskinan adalah Polemic yang tidak berujung. Disini saya akan
membahas semua tentang kemiskinan. Dan saya akan mengawali dengan apa itu
kemiskinan?
Kemiskinan, semua orang tentu sudah
mengerti apa itu kemiskinan. Banyak definisi yang dilontarkan masyarakat
tentang kemiskinan. Mulai dari pernyataan hidup serba kekurangan, tidak
memiliki barang apapun, untuk makan saja susah, hingga beratnya kehidupan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kemiskinan adalah keadaan miskin, situasi
penduduk atau sebagian penduduk yang hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan
perumahan yang sangat diperlukan ntuk mempertahankan tingkat kehidupan yang
minimum.
Kemiskinan memiliki konsep yang
beragam. World Bank mendefinisikan kemiskinan dengan menggunakan ukuran
kemampuan/daya beli, yaitu US $1 atau US $2 per kapita per hari. Sedangkan BPS
mendefinisikan kemiskinan didasarkan pada garis kemiskinan. Nilai garis
kemiskinan yang digunakan untuk menentukan kemiskinan mengacu pada kebutuhan
minimum yang di butuhkan oleh seseorang, yaitu 2100 kalori perkapita per hari,
ditambah dengan kebutuhan minimum non-makan yang merupakan kebutuhan dasae
seseorang yang meliputi: papan, sandang, sekolah, transportasi, serta kebutuhan
rumah tangga dan individu yang mendasarinya.
GARIS KEMISKINAN
Garis kemiskinan atau batas
kemiskinan adalah tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu dipenuhi untuk
memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu negara. Dalam praktiknya,
pemahaman resmi atau umum masyarakat mengenai garis kemiskinan (dan juga
definisi kemiskinan) lebih tinggi di negara maju daripada di negara berkembang.
Metode
yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua
komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan-
Makanan (GKBM).
Pertama,
Garis Kemiskinan Makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan
yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita per hari.
Paket
komodias kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditas, yaitu
padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan,
buah-buahan, minyak, dan lemak, dll.
Kedua,
Garis Kemiskinan Bukan Makanan yakni kebutuhan minimum untuk perumahan,
sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditas kebutuhan dasar bukan
makanan diwakili oleh 51 jenis komoditas di perkotaan dan 47 jenis komoditas di
perdesaan.
Penghitungan
Garis Kemiskinan tersebut dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan
perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata- rata pengeluaran
per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
Garsi Kemiskinan (GK) pada
aspek pendapatan diukur dengan syarat/ketentuan yang
dipakai oleh Bappenas yaitu US$ 1 per kapita per satu hari. Hal ini sesuai
dengan penjelasan Staf Ahli Meneg PPN/Kepala Bappenas bidang Sumberdaya Manusia
dan Kemiskinan (Bambang Widiyanto) yang menyatakan bahwa pemerintah menggunakan
defenisi penduduk miskin menurut Millennium Development Goals (MDGs), yakni
masyarakat berpenghasilan di bawah US$ 1 per kapita per hari (Gunawan dan
Siregar, 2007).
Pendekatan dengan aspek pengeluaran diukur dengan metode yang
digunakan oleh lembaga BPS dan BAPPENAS. Metode yang digunakan BPS dan BAPPENAS
untuk mengukur kemiskinan adalah menghitung GK dan keluarga pra sejahtera,
keluarga sejahtera 1 untuk mengukur kemiskinan adalah menghitung GK menggunakan
konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach) ,yang terdiri
dari dua komponen yaitu garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan non
makanan (GKNM).
PERTUMBUHAN,
KESENJANGAN DAN KEMISKINAN
q
Data 1970 – 1980 menunjukkan ada
korelasi positif antara laju pertumbuhan dan tingkat kesenjangan ekonomi.
Semakin tinggi pertumbuhan PDB atau pendapatan perkapita, semakin besar
perbedaan sikaya dengan simiskin.
q
Penelitian di Asia Tenggara oleh
Ahuja, dkk (1997) menyimpulkan bahwa selama periode 1970an dan 198an
ketimpangan distribusi pendapatan mulai menurun dan stabil, tapi sejak awal
1990an ketimpangan meningkat kembali, seperti Indonesia, Thaliland, Inggris dan
Swedia.
q
Janti (1997) menyimpulkan è semakin
besar ketimpangan dalam distribusi pendapatan disebabkan oleh pergeseran
demografi, perubahan pasar buruh, dan perubahan kebijakan publik. Perubahan
pasar buruh ini disebabkan oleh kesenjangan pendapatan dari kepala keluarga dan
semakin besar saham pendapatan istri dalam jumlah pendapatan keluarga.
q
Hipotesis Kuznetsè ada
korelasi positif atau negatif yang panjang antara tingkat pendapatan per kapita
dengan tingkat pemerataan distribusi pendapatan.
q
Dengan data cross sectional (antara
negara) dan time series, Simon Kuznets menemnukan bahwa relasi kesenjangan
pendapatan dan tingkat pendapatan perkapita berbentuk U terbalik.
PENYEBAB DAN DAMPAK KEMISKINAN
Penyebab
Kemiskinan juga banyak dihubungkan dengan :
• penyebab individual, atau patologis, yang
melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari
si miskin;
• penyebab keluarga, yang menghubungkan
kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
• penyebab sub-budaya
("subcultural"), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan
sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
• penyebab agensi, yang melihat kemiskinan
sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
•
penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil
dari struktur sosial.
Dampak
Kemiskinan
Dampak
kemiskinan antara lain :
· Kriminalitas
· Tingkat pendidikan rendah
· Tingkat kesehatan rendah dan
meningkatnya angka kematian
· Pengangguran
· Konflik sosial bernuasa SARA
BEBERAPA INDIKATOR KESENJANGAN DAN
KEMISKINAN
Adapun
indikator – indikator kemiskinan sebagaimana dikutip dari Badan Pusat
Statistik, antara lain sebagai berikut :
· Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan
dasar ( sandang,pangan, papan ).
· Tidak adanya akses terhadap kebutuhan
hidup dasar lainnya ( kesehaatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan
transportasi ).
· Tidak adanya jaminan masa depan (
karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga ).
· Kerentangan terhadap goncangan yang
bersifat individual maupun massa.
· Rendahnya kualitas sumber daya manusia
dan terbatasnya sumber daya alam.
· Kuranganya apresiasi dalam kegiatan
sosial masyarakat.
· Tidak adanya akses dalam lapangan
kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
· Ketidakmampuan untuk berusaha karena
cacat fisik maupun mental.
· Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan
sosial ( anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan rumah tangga,janda
miskin,kelompok marginal dan terpencil ).
a. Indikator Kesenjangan
Ada
sejumlah cara untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi
pendapatanyang dibagi ke dalam dua kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan
stochastic dominance.
Yang
sering digunakan dalam literatur adalah dari kelompok pendekatan pertama dengan
tigaalat ukur, yaitu the generalized entropy (GE), ukuran atkinson, dan
koefisien gini.
Yang
paling sering dipakai adalah koefisien gini. Nilai koefisien gini berada
padaselang 0 sampai dengan 1. Bila 0 : kemerataan sempurna (setiap orang
mendapat porsi yangsama dari pendapatan)
dan bila 1 : ketidakmerataan yang sempurna dalam pembagianpendapatan. Kurva
Lorenz, Kumulatif presentase dari populasi, Yang mempunyai pendapatan Idedasar
dari perhitungan koefisien gini berasal dari kurva lorenz. Semakin tinggi nilai
rasiogini, yakni mendekati 1 atau
semakin jauh kurva lorenz dari garis 45 derajat tersebut,semakin besar
tingkat ketidakmerataan distribusi pendapatan.Ketimpangan dikatakan
sangattinggi apabilai nilai koefisien gini berkisar antara 0,71-1,0.
Ketimpangan tinggi dengan nilaikoefisien
gini 0,5-0,7. Ketimpangan
sedang dengan nilai
gini antara 0,36-0,49,
danketimpangan dikatakan rendah dengan koefisien gini antara 0,2-0,35.
Selain
alat ukur diatas, cara pengukuran lainnya yang juga umum digunakan,
terutamaoleh Bank Dunia adalah dengan cara jumlah penduduk dikelompokkan
menjadi tiga group :40% penduduk dengan pendapatan rendah, 40% penduduk dengan
pendapatan menengah,dan 20% penduduk dengan pendapatan tinggi dari jumlah
penduduk.
b.
Indikator Kemiskinan
Batas garis kemiskinan yang digunakan setiap negara ternyata berbeda-beda.
Inidisebabkan karena adanya
perbedaan lokasi dan
standar kebutuhan hidup. Badan PusatStatistik (BPS) menggunakan batas
miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapitasebulan untuk memenuhi
kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan (BPS, 1994).
Untuk kebutuhan
minimum makanan digunakan
patokan 2.100 kalori
per hari.Sedangkan pengeluaran
kebutuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untukperumahan, sandang,
serta aneka barang dan jasa.
Untuk
mengukur kemiskinan terdapat 3 indikator yang diperkenalkan oleh Foster
dkk(1984) yang sering digunakan dalam banyak studi empiris. Pertama, the incidence of proverty:
presentase dari populasi yang hidup di dalam
keluarga dengan pengeluaran konsumsiperkapita dibawah garis kemiskinan,
indeksnya sering disebut rasio H. Kedua,
the dept ofproverty yang menggambarkan dalamnya kemiskinan disuatu wilayah yang
diukur denganindeks jarak kemiskinan (IJK), atau dikenal dengan sebutan
proverty gap index. Indeks ini mengestimasi
jarak/perbedaan rata-rata pendapatan
orang miskin dari
garis kemiskinansebagai suatu
proporsi dari garis tersebut yang dapat dijelaskan dengan formula sebagai
berikut : Pa = (1 / n) ∑i [(z - yi) / z]a
Indeks
Pa ini sensitif terhadap distribusi jika a >1. Bagian [(z - yi) / z] adalah
perbedaanantara garis kemiskinan (z) dan tingkat pendapatan dari kelompok
keluarga miskin (yi) dalambentuk suatu presentase dari garis kemiskinan.
Sedangkan bagian [(z - yi) / z]a adalahpresentase eksponen dari besarnya
pendapatan yang tekor, dan kalau dijumlahkan dari semuaorang miskin dan dibagi
dengan jumlah populasi (n) maka menghasilkan indeks Pa. Ketiga,the severity of property yang diukur dengan indeks
keparahan kemiskinan (IKK). Indeks inipada prinsipnya sama seperti IJK.
KEMISKINAN
DI INDONESIA
Pengentasan kemiskinan tetap merupakan salah satu
masalah yang paling mendesak di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup
dengan penghasilan kurang dari AS$2-per hari hampir sama dengan jumlah total
penduduk yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2- per hari dari semua
negara di kawasan Asia Timur kecuali Cina. Komitmen pemerintah untuk
mengentaskan kemiskinan tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
(RPJM) 2005-2009 yang disusun berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan
Kemiskinan (SNPK). Di samping turut menandatangani Tujuan Pembangunan Milenium
(atau Millennium Development Goals) untuk tahun 2015, dalam RPJM-nya pemerintah
telah menyusun tujuan-tujuan pokok dalam pengentasan kemiskinan untuk tahun
2009, termasuk target ambisius untuk mengurangi angka kemiskinan dari 18,2
persen pada tahun 2002 menjadi 8,2 persen pada tahun 2009. Walaupun angka
kemiskinan nasional mendekati kondisi sebelum krisis, hal ini tetap berarti
bahwa sekitar 40 juta orang saat ini hidup di bawah garis kemiskinan. Lagi
pula, walaupun Indonesia sekarang merupakan negara berpenghasilan menengah,
proporsi penduduk yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2-per hari sama
dengan negara-negara berpenghasilan rendah di kawasan ini, misalnya Vietnam.
Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di
Indonesia. Pertama, banyak rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan
nasional, yang setara dengan PPP AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk
yang meskipun tergolong tidak miskin tetapi rentan terhadap kemiskinan. Kedua,
ukuran kemiskinan didasarkan pada pendapatan, sehingga tidak menggambarkan
batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang yang mungkin tidak tergolong
(miskin dari segi pendapatan) dapat dikategorikan sebagai miskin atas dasar
kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta rendahnya indikator-indikator
pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat luas dan beragamnya wilayah
Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan di
Indonesia.
1. Banyak penduduk Indonesia rentan terhadap
kemiskinan. Angka kemiskinan nasional sejumlah besar penduduk yang hidup
sedikit saja di atas garis kemiskinan nasional. Hampir 42 persen dari seluruh
rakyat
2. Kemiskinan dari segi non-pendapatan adalah masalah
yang lebih serius dibandingkan dari kemiskinan dari segi pendapatan.
Bidang-bidang khusus yang patut diwaspadai adalah:
• Angka
gizi buruk (malnutrisi) yang tinggi dan bahkan meningkat pada tahun-tahun
terakhir: seperempat anak di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk di
Indonesia, dengan angka gizi buruk tetap sama dalam tahun- tahun terakhir
kendati telah terjadi penurunan angka kemiskinan.
•
Kesehatan ibu yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara di
kawasan yang sama, angka kematian ibu di Indonesia adalah 307 (untuk 100.000
kelahiran hidup), tiga kali lebih besar dari Vietnam dan enam kali lebih besar
dari Cina dan Malaysia hanya sekitar 72 persen persalinan dibantu oleh bidan
terlatih.
•
Lemahnya hasil pendidikan. Angka melanjutkan dari sekolah dasar ke
sekolah menengah masih rendah, khususnya di antara penduduk miskin: di antara
kelompok umur 16-18 tahun pada kuintil termiskin, hanya 55 persen yang lulus
SMP, sedangkan angka untuk kuintil terkaya adalah 89 persen untuk kohor yang
sama.
•
Rendahnya akses terhadap air bersih, khususnya di antara penduduk
miskin. Untuk kuintil paling rendah, hanya 48 persen yang memiliki akses air
bersih di daerah pedesaan, sedangkan untuk perkotaan, 78 persen.
• Akses
terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting. Delapan puluh persen
penduduk miskin di pedesaan dan 59 persen penduduk miskin di perkotaan tidak
memiliki akses terhadap tangki septik, sementara itu hanya kurang dari satu
persen dari seluruh penduduk Indonesia yang terlayani oleh saluran pembuangan
kotoran berpipa.
3. Perbedaan antar daerah yang besar di bidang
kemiskinan. Keragaman antar daerah merupakan ciri khas Indonesia, di antaranya
tercerminkan dengan adanya perbedaan antara daerah pedesaan dan perkotaan. Di
pedesaan, terdapat sekitar 57 persen dari orang miskin di Indonesia yang juga
seringkali tidak memiliki akses terhadap pelayanan infrastruktur dasar hanya
sekitar 50 persen masyarakat miskin di pedesaan mempunyai akses terhadap sumber
air bersih, dibandingkan dengan 80 persen bagi masyarakat miskin di perkotaan.
Tetapi yang penting, dengan melintasi kepulauan Indonesia yang sangat luas,
akan ditemui perbedaan dalam kantong-kantong kemiskinan di dalam daerah itu
sendiri.
FAKTOR
PENYEBAB KEMISKINAN
Menurut Todaro (1997) menyatakan bahwa
variasi kemiskinan dinegara berkembang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
• perbedaan
geografis, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan,
• perbedaan
sejarah, sebagian dijajah oleh Negara yang berlainan,
• perbedaan
kekayaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya manusianya
• perbedaan
peranan sektor swasta dan negara,
• perbedaan
struktur industri,
• perbedaan
derajat ketergantungan pada kekuatan ekonomi dan politik negara lain
• perbedaan
pembagian kekuasaan, struktur politik dan kelembagaan dalam negeri.
Menurut Ginanjar (1996) ada 4 faktor
penyebab kemiskinan, faktor-faktor tersebut antara lain:
A. Rendahnya
taraf pendidikan
B. Rendahnya
taraf kesehatan.
C. Terbatasnya lapangan kerja.
D. Kondisi keterisolasian.
Kebijakan Anti
kemiskinan
Hubungan antara
pertumbuhan ekonomi, kebijakan, kelembagaan dan penurunan kemiskinan disajikan
dan gambar berikut ini.

Kebijakan lembaga
dunia mencakup World Bank, ADB, UNDP, ILO, dsb.
World bank (1990)
peprangan melawan kemiskinan melalui:
·
Pertumbuhan
ekonomi yang luas dan menciptakan lapangan kerja yang padat karya
·
Pengembangan
SDM
·
Membuat
jaringan pengaman social bagi penduduk miskin yang tidak mampu memperoleh dan
menikmati pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja serta pengembangan SDM sebagai
akibat dari cacat fisik dan mental, bencana, konflik social atau wilayah yang
terisolasi
World bank (2000)
memberikan resep baru dalam memerangi kemiskinan dengan 3 pilar:
1.
Pemberdayaan
yaitu proses peningkatan kapasitas penduduk miskin untuk mempengaruhi
lembaga-lembaga pemerintah yang mempengaruhi kehidupan mereka dengan memperkuat
partisipasi mereka dalam proses politik dan pengambilan keputusan tingkat
local.
2.
Keamanan
yaitu proteksi bagi orang miskin terhadap goncangan yang merugikan melalui
manajemen yang lebih baik dalam menangani goncangan ekonomi makrodan jaringan
pengaman yang lebih komprehensif.
3.
Kesempatan
yaitu proses peningkatan akses kaum miskin terhadap modal fisik dan modal
manusia dan peningkatan tingkat pengembalian dari asset asset tersebut.
ADB (1999)
menyatakan ada 3 pilar untuk mengentaskan kemiskinan:
·
Pertumbuhan
berkelanjutan yang prokemiskinan
·
Pengembangan
social yang mencakup: pengembangan SDM, modal social, perbaikan status
perempuan, dan perlindungan social
·
Manajemen
ekonomi makro dan pemerintahan yang baik yang dibutuhkan untuk mencapai
keberhasilan.
Factor tambahan:
·
Pembersihan
polusi udara dan air kota-kota besar
·
Reboisasi
hutan, penumbuhan SDM, dan perbaikan tanah
SUMBER
Tidak ada komentar:
Posting Komentar