Rabu, 08 Juni 2016

KEMISKINAN DAN KESENJANGAN

NAMA                                : INNE HANANDITA SUPRIYANTO
NPM                                   : 23215385
KELAS                               : 1EB17
FAKULTAS/JURUSAN     : EKONOMI / S-1 AKUNTANSI    
TUGAS                               : KE-5 PEREKONOMIAN INDONESIA (#Softskill)

KEMISKINAN DAN KESENJANGAN

KONSEP DAN PENGERTIAN KEMISKINAN
            Kemiskinan adalah permasalahan yang selalu menjadi tugas utama pemerintah untuk di selesaikan. Namun dari tahun ketahun, tingkat kemiskinan mengalami kenaikan maupun penurunan. Masalah yang menjadi tolak ukur keberhasilan pemerintah untuk membenahi negaranya. Kemiskinan, yang juga menjadi tolak ukur seberapa berhasilkah/ seberapa majukah suatu Negara. Kemiskinan adalah Polemic yang tidak berujung. Disini saya akan membahas semua tentang kemiskinan. Dan saya akan mengawali dengan apa itu kemiskinan?
            Kemiskinan, semua orang tentu sudah mengerti apa itu kemiskinan. Banyak definisi yang dilontarkan masyarakat tentang kemiskinan. Mulai dari pernyataan hidup serba kekurangan, tidak memiliki barang apapun, untuk makan saja susah, hingga beratnya kehidupan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Kemiskinan adalah keadaan miskin, situasi penduduk atau sebagian penduduk yang hanya dapat memenuhi makanan, pakaian, dan perumahan yang sangat diperlukan ntuk mempertahankan tingkat kehidupan yang minimum.
           Kemiskinan memiliki konsep yang beragam. World Bank mendefinisikan kemiskinan dengan menggunakan ukuran kemampuan/daya beli, yaitu US $1 atau US $2 per kapita per hari. Sedangkan BPS mendefinisikan kemiskinan didasarkan pada garis kemiskinan. Nilai garis kemiskinan yang digunakan untuk menentukan kemiskinan mengacu pada kebutuhan minimum yang di butuhkan oleh seseorang, yaitu 2100 kalori perkapita per hari, ditambah dengan kebutuhan minimum non-makan yang merupakan kebutuhan dasae seseorang yang meliputi: papan, sandang, sekolah, transportasi, serta kebutuhan rumah tangga dan individu yang mendasarinya.
GARIS KEMISKINAN
            Garis kemiskinan atau batas kemiskinan adalah tingkat minimum pendapatan yang dianggap perlu dipenuhi untuk memperoleh standar hidup yang mencukupi di suatu negara. Dalam praktiknya, pemahaman resmi atau umum masyarakat mengenai garis kemiskinan (dan juga definisi kemiskinan) lebih tinggi di negara maju daripada di negara berkembang.
Metode yang digunakan adalah menghitung Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari dua komponen, yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan- Makanan (GKBM).
Pertama, Garis Kemiskinan Makanan adalah nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2100 kkalori per kapita per hari.
Paket komodias kebutuhan dasar makanan diwakili oleh 52 jenis komoditas, yaitu padi-padian, umbi-umbian, ikan, daging, telur dan susu, sayuran, kacang-kacangan, buah-buahan, minyak, dan lemak, dll.
Kedua, Garis Kemiskinan Bukan Makanan yakni kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Paket komoditas kebutuhan dasar bukan makanan diwakili oleh 51 jenis komoditas di perkotaan dan 47 jenis komoditas di perdesaan.

Penghitungan Garis Kemiskinan tersebut dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata- rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
            Garsi Kemiskinan (GK) pada aspek pendapatan diukur dengan syarat/ketentuan yang dipakai oleh Bappenas yaitu US$ 1 per kapita per satu hari. Hal ini sesuai dengan penjelasan Staf Ahli Meneg PPN/Kepala Bappenas bidang Sumberdaya Manusia dan Kemiskinan (Bambang Widiyanto) yang menyatakan bahwa pemerintah menggunakan defenisi penduduk miskin menurut Millennium Development Goals (MDGs), yakni masyarakat berpenghasilan di bawah US$ 1 per kapita per hari (Gunawan dan Siregar, 2007).
            Pendekatan dengan aspek pengeluaran diukur dengan metode yang digunakan oleh lembaga BPS dan BAPPENAS. Metode yang digunakan BPS dan BAPPENAS untuk mengukur kemiskinan adalah menghitung GK dan keluarga pra sejahtera, keluarga sejahtera 1 untuk mengukur kemiskinan adalah menghitung GK menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach) ,yang terdiri dari dua komponen yaitu garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan non makanan (GKNM).
PERTUMBUHAN, KESENJANGAN DAN KEMISKINAN
q  Data 1970 – 1980 menunjukkan ada korelasi positif antara laju pertumbuhan dan tingkat kesenjangan ekonomi. Semakin tinggi pertumbuhan PDB atau pendapatan perkapita, semakin besar perbedaan sikaya dengan simiskin.
q  Penelitian di Asia Tenggara oleh Ahuja, dkk (1997) menyimpulkan bahwa selama periode 1970an dan 198an ketimpangan distribusi pendapatan mulai menurun dan stabil, tapi sejak awal 1990an ketimpangan meningkat kembali, seperti Indonesia, Thaliland, Inggris dan Swedia.
q  Janti (1997) menyimpulkan è semakin besar ketimpangan dalam distribusi pendapatan disebabkan oleh pergeseran demografi, perubahan pasar buruh, dan perubahan kebijakan publik. Perubahan pasar buruh ini disebabkan oleh kesenjangan pendapatan dari kepala keluarga dan semakin besar saham pendapatan istri dalam jumlah pendapatan keluarga.
q  Hipotesis Kuznetsè ada korelasi positif atau negatif yang panjang antara tingkat pendapatan per kapita dengan tingkat pemerataan distribusi pendapatan.
q  Dengan data cross sectional (antara negara) dan time series, Simon Kuznets menemnukan bahwa relasi kesenjangan pendapatan dan tingkat pendapatan perkapita berbentuk U terbalik.
PENYEBAB DAN DAMPAK KEMISKINAN
Penyebab Kemiskinan juga banyak dihubungkan dengan                    :
•      penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
•      penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
•      penyebab sub-budaya ("subcultural"), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
•      penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
• penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
Dampak Kemiskinan
Dampak kemiskinan antara lain :
·         Kriminalitas
·         Tingkat pendidikan rendah
·         Tingkat kesehatan rendah dan meningkatnya angka kematian
·         Pengangguran
·         Konflik sosial bernuasa SARA
BEBERAPA INDIKATOR KESENJANGAN DAN KEMISKINAN
Adapun indikator – indikator kemiskinan sebagaimana dikutip dari Badan Pusat Statistik, antara lain sebagai berikut :
·         Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar ( sandang,pangan, papan ).
·         Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya ( kesehaatan, pendidikan, sanitasi, air bersih dan transportasi ).
·         Tidak adanya jaminan masa depan ( karena tiadanya investasi untuk pendidikan dan keluarga ).
·         Kerentangan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun massa.
·         Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan terbatasnya sumber daya alam.
·         Kuranganya apresiasi dalam kegiatan sosial masyarakat.
·         Tidak adanya akses dalam lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan.
·         Ketidakmampuan untuk berusaha karena cacat fisik maupun mental.
·         Ketidakmampuan dan ketidaktergantungan sosial ( anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan rumah tangga,janda miskin,kelompok marginal dan terpencil ).
a. Indikator Kesenjangan
Ada sejumlah cara untuk mengukur tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatanyang dibagi ke dalam dua kelompok pendekatan, yakni axiomatic dan stochastic dominance.
Yang sering digunakan dalam literatur adalah dari kelompok pendekatan pertama dengan tigaalat ukur, yaitu the generalized entropy (GE), ukuran atkinson, dan koefisien gini.
Yang paling sering dipakai adalah koefisien gini. Nilai koefisien gini berada padaselang 0 sampai dengan 1. Bila 0 : kemerataan sempurna (setiap orang mendapat porsi yangsama  dari pendapatan) dan bila 1  : ketidakmerataan yang  sempurna dalam pembagianpendapatan. Kurva Lorenz, Kumulatif presentase dari populasi, Yang mempunyai pendapatan Idedasar dari perhitungan koefisien gini berasal dari kurva lorenz. Semakin tinggi nilai rasiogini, yakni  mendekati  1 atau  semakin jauh kurva lorenz dari garis 45 derajat tersebut,semakin besar tingkat ketidakmerataan distribusi pendapatan.Ketimpangan dikatakan sangattinggi apabilai nilai koefisien gini berkisar antara 0,71-1,0. Ketimpangan tinggi dengan nilaikoefisien   gini   0,5-0,7.   Ketimpangan   sedang   dengan   nilai   gini   antara   0,36-0,49,   danketimpangan dikatakan rendah dengan koefisien gini antara 0,2-0,35.
Selain alat ukur diatas, cara pengukuran lainnya yang juga umum digunakan, terutamaoleh Bank Dunia adalah dengan cara jumlah penduduk dikelompokkan menjadi tiga group :40% penduduk dengan pendapatan rendah, 40% penduduk dengan pendapatan menengah,dan 20% penduduk dengan pendapatan tinggi dari jumlah penduduk.
b. Indikator Kemiskinan
Batas  garis kemiskinan  yang digunakan  setiap negara ternyata  berbeda-beda.  Inidisebabkan karena  adanya perbedaan   lokasi  dan  standar  kebutuhan hidup.  Badan PusatStatistik (BPS) menggunakan batas miskin dari besarnya rupiah yang dibelanjakan per kapitasebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan (BPS, 1994).
Untuk   kebutuhan   minimum   makanan   digunakan   patokan   2.100   kalori   per   hari.Sedangkan pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untukperumahan, sandang, serta aneka barang dan jasa.
Untuk mengukur kemiskinan terdapat 3 indikator yang diperkenalkan oleh Foster dkk(1984) yang sering digunakan dalam banyak studi empiris. Pertama, the incidence of proverty: presentase dari populasi yang hidup di dalam  keluarga dengan pengeluaran konsumsiperkapita dibawah garis kemiskinan, indeksnya sering disebut rasio H. Kedua, the dept ofproverty yang menggambarkan dalamnya kemiskinan disuatu wilayah yang diukur denganindeks jarak kemiskinan (IJK), atau dikenal dengan sebutan proverty gap index. Indeks ini mengestimasi   jarak/perbedaan   rata-rata   pendapatan   orang   miskin   dari   garis   kemiskinansebagai suatu proporsi dari garis tersebut yang dapat dijelaskan dengan formula sebagai berikut :        Pa = (1 / n) ∑i [(z - yi) / z]a
Indeks Pa ini sensitif terhadap distribusi jika a >1. Bagian [(z - yi) / z] adalah perbedaanantara garis kemiskinan (z) dan tingkat pendapatan dari kelompok keluarga miskin (yi) dalambentuk suatu presentase dari garis kemiskinan. Sedangkan bagian [(z - yi) / z]a adalahpresentase eksponen dari besarnya pendapatan yang tekor, dan kalau dijumlahkan dari semuaorang miskin dan dibagi dengan jumlah populasi (n) maka menghasilkan indeks Pa. Ketiga,the severity of property yang diukur dengan indeks keparahan kemiskinan (IKK). Indeks inipada prinsipnya sama seperti IJK.


KEMISKINAN DI INDONESIA
Pengentasan kemiskinan tetap merupakan salah satu masalah yang paling mendesak di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2-per hari hampir sama dengan jumlah total penduduk yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2- per hari dari semua negara di kawasan Asia Timur kecuali Cina. Komitmen pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2005-2009 yang disusun berdasarkan Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan (SNPK). Di samping turut menandatangani Tujuan Pembangunan Milenium (atau Millennium Development Goals) untuk tahun 2015, dalam RPJM-nya pemerintah telah menyusun tujuan-tujuan pokok dalam pengentasan kemiskinan untuk tahun 2009, termasuk target ambisius untuk mengurangi angka kemiskinan dari 18,2 persen pada tahun 2002 menjadi 8,2 persen pada tahun 2009. Walaupun angka kemiskinan nasional mendekati kondisi sebelum krisis, hal ini tetap berarti bahwa sekitar 40 juta orang saat ini hidup di bawah garis kemiskinan. Lagi pula, walaupun Indonesia sekarang merupakan negara berpenghasilan menengah, proporsi penduduk yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2-per hari sama dengan negara-negara berpenghasilan rendah di kawasan ini, misalnya Vietnam.
Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama, banyak rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan nasional, yang setara dengan PPP AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk yang meskipun tergolong tidak miskin tetapi rentan terhadap kemiskinan. Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada pendapatan, sehingga tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang yang mungkin tidak tergolong (miskin dari segi pendapatan) dapat dikategorikan sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat luas dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan di Indonesia.

1. Banyak penduduk Indonesia rentan terhadap kemiskinan. Angka kemiskinan nasional sejumlah besar penduduk yang hidup sedikit saja di atas garis kemiskinan nasional. Hampir 42 persen dari seluruh rakyat

2. Kemiskinan dari segi non-pendapatan adalah masalah yang lebih serius dibandingkan dari kemiskinan dari segi pendapatan. Bidang-bidang khusus yang patut diwaspadai adalah:
•         Angka gizi buruk (malnutrisi) yang tinggi dan bahkan meningkat pada tahun-tahun terakhir: seperempat anak di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk di Indonesia, dengan angka gizi buruk tetap sama dalam tahun- tahun terakhir kendati telah terjadi penurunan angka kemiskinan.
•         Kesehatan ibu yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara di kawasan yang sama, angka kematian ibu di Indonesia adalah 307 (untuk 100.000 kelahiran hidup), tiga kali lebih besar dari Vietnam dan enam kali lebih besar dari Cina dan Malaysia hanya sekitar 72 persen persalinan dibantu oleh bidan terlatih.
•         Lemahnya hasil pendidikan. Angka melanjutkan dari sekolah dasar ke sekolah menengah masih rendah, khususnya di antara penduduk miskin: di antara kelompok umur 16-18 tahun pada kuintil termiskin, hanya 55 persen yang lulus SMP, sedangkan angka untuk kuintil terkaya adalah 89 persen untuk kohor yang sama.
•         Rendahnya akses terhadap air bersih, khususnya di antara penduduk miskin. Untuk kuintil paling rendah, hanya 48 persen yang memiliki akses air bersih di daerah pedesaan, sedangkan untuk perkotaan, 78 persen.
•         Akses terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting. Delapan puluh persen penduduk miskin di pedesaan dan 59 persen penduduk miskin di perkotaan tidak memiliki akses terhadap tangki septik, sementara itu hanya kurang dari satu persen dari seluruh penduduk Indonesia yang terlayani oleh saluran pembuangan kotoran berpipa.
3. Perbedaan antar daerah yang besar di bidang kemiskinan. Keragaman antar daerah merupakan ciri khas Indonesia, di antaranya tercerminkan dengan adanya perbedaan antara daerah pedesaan dan perkotaan. Di pedesaan, terdapat sekitar 57 persen dari orang miskin di Indonesia yang juga seringkali tidak memiliki akses terhadap pelayanan infrastruktur dasar hanya sekitar 50 persen masyarakat miskin di pedesaan mempunyai akses terhadap sumber air bersih, dibandingkan dengan 80 persen bagi masyarakat miskin di perkotaan. Tetapi yang penting, dengan melintasi kepulauan Indonesia yang sangat luas, akan ditemui perbedaan dalam kantong-kantong kemiskinan di dalam daerah itu sendiri.

FAKTOR PENYEBAB KEMISKINAN

            Menurut Todaro (1997) menyatakan bahwa variasi kemiskinan dinegara berkembang disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
•      perbedaan geografis, jumlah penduduk dan tingkat pendapatan,
•      perbedaan sejarah, sebagian dijajah oleh Negara yang berlainan,
•      perbedaan kekayaan sumber daya alam dan kualitas sumber daya   manusianya
•      perbedaan peranan sektor swasta dan negara,
•      perbedaan struktur industri,
•      perbedaan derajat ketergantungan pada kekuatan ekonomi dan politik negara lain
•      perbedaan pembagian kekuasaan, struktur politik dan kelembagaan dalam negeri.
           Menurut Ginanjar (1996) ada 4 faktor penyebab kemiskinan, faktor-faktor tersebut antara lain:
A.   Rendahnya taraf pendidikan
B.   Rendahnya taraf kesehatan.
C.   Terbatasnya lapangan kerja.
D.   Kondisi keterisolasian.

Kebijakan Anti kemiskinan
Hubungan antara pertumbuhan ekonomi, kebijakan, kelembagaan dan penurunan kemiskinan disajikan dan gambar berikut ini.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVdP3PgKSXwaLeXieo01tZskSnWIo7hGSY4TbFgP2C632NEiNDBTqWIHG4SvkjFbQkl0JT7f7LBnZVd1rQOzPPMEop7wVEbsTmYz8UUcWp1cYZX-AFEvmxmibQcNk_WBjNWDz0XlxOkI4/s400/Untitled.png


Kebijakan lembaga dunia mencakup World Bank, ADB, UNDP, ILO, dsb.

World bank (1990) peprangan melawan kemiskinan melalui:
·         Pertumbuhan ekonomi yang luas dan menciptakan lapangan kerja yang padat karya
·         Pengembangan SDM
·         Membuat jaringan pengaman social bagi penduduk miskin yang tidak mampu memperoleh dan menikmati pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja serta pengembangan SDM sebagai akibat dari cacat fisik dan mental, bencana, konflik social atau wilayah yang terisolasi

World bank (2000) memberikan resep baru dalam memerangi kemiskinan dengan 3 pilar:
1.      Pemberdayaan yaitu proses peningkatan kapasitas penduduk miskin untuk mempengaruhi lembaga-lembaga pemerintah yang mempengaruhi kehidupan mereka dengan memperkuat partisipasi mereka dalam proses politik dan pengambilan keputusan tingkat local.
2.      Keamanan yaitu proteksi bagi orang miskin terhadap goncangan yang merugikan melalui manajemen yang lebih baik dalam menangani goncangan ekonomi makrodan jaringan pengaman yang lebih komprehensif.
3.      Kesempatan yaitu proses peningkatan akses kaum miskin terhadap modal fisik dan modal manusia dan peningkatan tingkat pengembalian dari asset asset tersebut.


ADB (1999) menyatakan ada 3 pilar untuk mengentaskan kemiskinan:
·         Pertumbuhan berkelanjutan yang prokemiskinan
·         Pengembangan social yang mencakup: pengembangan SDM, modal social, perbaikan status perempuan, dan perlindungan social
·         Manajemen ekonomi makro dan pemerintahan yang baik yang dibutuhkan untuk mencapai keberhasilan.
Factor tambahan:
·         Pembersihan polusi udara dan air kota-kota besar
·         Reboisasi hutan, penumbuhan SDM, dan perbaikan tanah




SUMBER











Tidak ada komentar:

Posting Komentar