NAMA : INNE HANANDITA SUPRIYANTO
NPM : 23215385
KELAS : 1EB17
FAKULTAS/JURUSAN : EKONOMI / S-1 AKUNTANSI
TUGAS : KE-4 PEREKONOMIAN INDONESIA (#Softskill)
PDB, PERTUMBUHAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR
EKONOMI
·
Produk
Domestik Bruto (PDB)
Pengertian
Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Produk (GDP), dalam
pengertiannya menurut definisi para ahli mengatakan bahwa pengertian Produk
Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Produk (GDP) adalah jumlah produksi
barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi pada suatu daerah di
saat tertentu. Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan alat pengukur dari
pertumbuhan ekonomi dimana alat pengukur pertumbuhan ekonomi adalah PDB, PDB
perkapita dan Pendapatan per jam Kerja. Sebagai alat pengukur dalam pertumbuhan
ekonomi PDB memiliki rumus dalam mencari PDB
dan PDB juga memiliki empat komponen sebagai berikut...
Komponen-Komponen
Produk Domestik Bruto
a. Konsumsi rumah tangga
b. Investasi
c. Konsumsi pemerintah
d. Ekspor bersih, yang merupakan selisih dari total
ekspor dan impor.
Rumus Mencari PDB
Berdasarkan
komponen-komponen tersebut, maka dirumuskan seperti dibawah ini..
PDB = C + I + G
+ (X-M)
Keterangan :
C : Konsumsi
rumah tangga
I : Investasi
G : Konsumsi
pemerintah
X : Ekspor
M : Impor
Dari rumus
tersebut, dapat dijelaskan bahwa apabila konsumsi bertambah makan akan
berpengaruh pada PDB yang akan meningkat pula. Begitu juga dengan Investasi,
pengeluaran pemerintah dan ekspor bersih apabila mengalami peningkatan maka
jumlah PDB akan meningkat, hal ini dikarenakan komponen-komponen tersebut
berada dalam satu fungsi linier. Oleh karena itu, setiap negara selalu berusaha
untuk meningkatkan konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, dan nilai
ekspor bersih.
Secara kasar PDB
dapat dijadikan ukuran kesejahteraan ekonomi suatu negara, akan tetapi ukuran
ini tidak terlalu tepat. Mengapa dikatakan tidak tepat karena jika hanya
melihat PDB, perhitungan tersebut masih mengabaikan faktor jumlah penduduk.
·
Pertumbuhan dan Perubahan Struktur Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi
adalah proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara secara
berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu.
Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas
produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan
nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupa kan indikasi keberhasilan
pembangunan ekonomi.
Kesejahteraan
masyarakat dari aspek ekonomi dapat diukur dengan tingkat pendapatan nasional
per kapita. Untuk dapat meningkatkan pendapatan nasional, maka pertumbuhan
ekonomi menjadi salah satu target yang sangat penting yang harus dicapai dalam
proses pembangunan ekonomi. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pada awal
pembangunan ekonomi suatu Negara, umumnya perencanaan pembangunan ekonomi
berorientasi pada masalah pertumbuhan. Untuk Negara-negara seperti Indonesia
yang jumlah penduduknya sangat besar dan tingkat pertumbuhan penduduk yang
sangat tinggi ditambah kenyataan bahwa penduduk Indonesia di bawah garis
kemiskinan juga besar, maka pertumbuhan ekonomi menjadi sangat penting dan
lajunya harus jauh lebih besar dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk agar peningkatan
pendapatan masyarakat per kapita dapat tercapai.
Pertumbuhan ekonomi
dapat menurunkan tingkat kemiskinan dengan menciptakan lapangan kerja dan
pertumbuhan jumlah pekerja yang cepat dan merata. Pertumbuhan ekonomi juga
harus disertai dengan program pembangunan sosial .
Dalam GBHN, tujuan
pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Indikator untuk
mengukur kesejahteraan adalah National Income.
Awal pembangunan
ekonomi suatu Negara dengan prioritas:
· Pertumbuhan
ekonomi
· Distribusi pendapatan
Proses pembangunan
ekonomi merubah struktur ekonomi secara mendasar:
· Sisi permintaan agregat, pendalaman
struktur ekonomi didorong oleh peningkatan national income
yang berpengaruh terhadap selera masyarakat yang terefleksi dalam pola
konsumsinya.
· Sisi penawaran agregat, faktor
pendorong utamanya adalah perubahan teknologi, peningkatan SDM, dan penemuan
material baru untuk produksi.
Pertumbuhan ekonomi
merupakan penambahan GDP, sehingga terjadi peningkatan national income.National
income dapat merujuk pada GDP, GNP atau NNP (Net national Product)
GNP = GDP + F, dimana F
= pendapatan neto atas faktor luar negeri
NNP = GNP – D, dimana D
= depresiasi
NP = NNP – Ttl, dimana
Ttl = pajak tidak langsung neto.
GDP = NP + Ttl + D – F
NP = GDP + F – D- Ttl
·
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Selama Orde Baru Hingga
Saat Ini
1. Kondisi
Ekonomi Indonesia pada Masa Orde baru (1966-1998)
Pemerintahan Orde Baru menyadari
sepenuhnya bahwa akibat konflik yang berkepanjangan penderitaan rakyat telah
mencapai titik yang tertinggi. Kesejahteraan rakyat telah menjadi korban dan
ambisi para petualan politik. Atas dasar kesadran tersebut, maka pada awal Orde
Baru Stabilisasi Ekonomi menjadi proritas utama.
a. Stabilisasi
Ekonomi
Pada permulaan Orde Baru, program pemerintah
berorientasi pada usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama pada usaha
pengendalian tingkat inflasi, penyelamatan keuangan negara, dan pengamanan
kebutuhan pokok rakyat. Pelaksanaan pembangunan Orde Baru bertumpu kepada
program yang dikenal dengan sebutan “ Trilogi Pembangunan” yaitu sebagai
berikut :
a) Pemerataan
pembangunan dan hasil-hasilnya menju kepada terciptanya keadilan social bagi
seluruh rakyat Indonesia.
b) Pertumbuhan
ekonomi yang cukup tinggi.
c) Stabilitas
yang sehat dan dinamis.
Pelaksanaan Pola Umum Pembangunan jangka
panjang (25-30 tahun) dilakukan Orde Baru secara periodic 5 tahunan yang
disebut Pelita (Pembangunan Lima Tahun).
· Pelita
I (1969-1974), sasaran yang hendak dicapai adalah tersedianya pangan, sandang,
papan, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rohani. Pelita 1 menekankan
pembangunan di bidang pertanian.
· Pelita
II (1974-1979), sasaran yang hendak dicapai adalah tersedianya pangan, sandang,
papan, perluasan lapangan kerja, dan kesejahteraan rakyat.
· Pelita
III (1979-1984), sasaran yang hendak dicapai adalah Trilogi Pembangunan.
· Pelita
IV (1984-1989), sasaran yang hendak dicapai adalah di bidang pertanian
tercapainya swasembada pangan.
· Pelita
V (1989-1994), sasaran yang hendak dicapai adalah upaya peningktan semua segi
kehidupan bangsa.
· Pelita
VI (1994-1998), Pemerintah menitikberatkan pembangunan ekonomi yang berkaitam
dengan industri dan pertanian, serta pembangunan dan peningkatan sumber daya
manusia sebagai pendukunggnya.
Ø Masa Kepemimpinan B. J. Habibie (21 Mei 1998 – 20 Oktober
1999)
Pada saat pemerintahan presiden B.J Habibie
yang mengawali masa reformasi belum melakukan perubahan-perubahan yang cukup
berarti di bidang ekonomi. B. J. Habibie diangkat menjadi presiden menggantikan
Soeharto pada tanggal 21 Mei 1998. Tugasnya adalah Melanjutkan kebijakan yang
telah dibuat oleh sebelumnya, kemudian Habibie membentuk kabinet
yang diberi nama Kabinet Reformasi Pembangunan. Berikut upaya-upaya yang
dilakukan Habibie di bidang ekonomi antara lain :
1) Merekapitulasi
perbankan.
2) Merekonstruksi
Perekonomian Indonesia.
3) Melikuidasi
beberapa bank bermasalah.
4) Menaikkan
nilai tukar rupiah terhadap dollar hingga di bawah Rp. 10.000
5) Mengimplementasikan
Reformasi ekonomi yang diisyaratkan oleh IMF.
Presiden B.J Habibie jatuh dari
pemerintahannya karena melepaskan wilayah Timor-timor dari Wilayah Indonesia.
Ø Masa Kepemimpinan Abdurrahman Wahid (21 Mei 1998 – 20
Oktober 1999)
Pada masa kepemimpinan presiden Abdurrahman
Wahid pun belum ada tindakan yang cukup berati untuk menyelamatkan Indonesia
dari keterpurukan. Kepemimpinan Abdurraman Wahid berakhir karena
pemerintahannya mengahadapi masalah-masalah yang kontroversial.
Ø Masa Kepemimpinan Megawati Soekarno Putri (23 Juli
2001-20 Oktober 2004)
Masa kepemimpinan Megawati mengalami
masalah-masalah yang mendesak yang harus diselesaikan yaitu pemulihan ekonomi
dan penegakan hokum. Kebijakan-kebijakan yang ditempuh untuk mengatasai
persoalan-persoalan ekonomi antara lain :
1) Melakukan
pembayaran utang luar negeri.
2) Memelihara
dan memantapkan stabilitas Negara.
3) Memantapkan
ekonomi nasional.
4) Privatisasi
BUMN.
5) Memperbaiki kinerja
ekspor.
Ø Masa Kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (20 Oktober
2004-2014)
Berikut kondisi dan kebijakan-kebijakan masa
kepemimpinan SBY di bidang ekonomi antara lain :
1) Hingga
Maret 2005 utang luar negeri U$$136.6 miliar dan masa penundaan utang paris
club 3 sudah habis.
2) Seratus
hari pertama lebih banyak bicara ekonomi makro dari pada secara spesifik
program peningkatan ekspor.
3) Pada
tanggal 19 Desember 2004 SBY menaikkan haraga “BBM Mewah”.
4) Melanjutkan
pertumbuhan ekonomi Megawati, diperkirakan pertumbuhan ekonomi nya naik hingga
4,4-4,9% dan inflasi meningkat yakni 5,5%.
5) Menaikkan
pendapat perkapita dengan mengandalkan pembangunan infrasruktur missal dengan
mendorong pertumbuhan ekonomi serta mengundang investor dengan janji akan
memperbaiki iklim investasi.
b. Perkembangan
Ekonomi di Tahun 2015
Awal tahun 2015 menjadi momentum tepat untuk
memprediksi kondisi perekonomian Indonesia kedepan. Sebagai salah satu negara
yang baru saja mengalami perombakan politik, serangkaian kebijakan baru
tentunya akan mempengaruhi proyeksi ekonominya. Meskipun laju perekonomian di
tahun lalu mengalami perlambatan, namun sejumlah ahli dan ekonom justru
memprediksi bahwa di tahun 2015 perekonomian Indonesia akan mengalami
peningkatan. Bagaimana hal ini dapat terjadi? Bahkan ditengah kondisi ekonomi
internasional yang terbilang pesimis dalam beberapa tahun terakhir? Berikut ini
sejumlah data yang dikumpulkan dari data-data Bank Indonesia dan sejumlah
kalangan mengenai perkembangan ekonomi di tahun 2015.
Pada pertengahan Januari lalu, Bank
Indonesia menetapkan
untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,75%, dengan suku bunga Lending Facility
dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 8,00% dan 5,75%.
Kemudikan dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi Indonesia
di 2014 dan prospek ekonomi 2015 dan 2016 yang menunjukkan bahwa kebijakan
tersebut masih konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke
sasaran 4±1% pada 2015 dan 2016, dan mendukung pengendalian defisit transaksi
berjalan ke tingkat yang lebih sehat.
Mengacu pada evaluasi terhadap perekonomian
di tahun lalu, di tahun ini Bank Indonesia memperkirakan perekonomian
Indonesia semakin baik, dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan
stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga, ditopang oleh perbaikan ekonomi
global dan semakin kuatnya reformasi struktural dalam memperkuat fundamental
ekonomi nasional.
Perekonomian Indonesia tahun 2014
diprakirakan tumbuh sebesar 5,1%, melambat dibandingkan dengan 5,8% pada tahun
sebelumnya. Dari sisi eksternal, perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh
ekspor yang menurun akibat turunnya permintaan dan harga komoditas global,
serta adanya kebijakan pembatasan ekspor mineral mentah. Meskipun ekspor secara
keseluruhan menurun, ekspor manufaktur cenderung membaik sejalan dengan
berlanjutnya pemulihan AS. Dari sisi permintaan domestik, perlambatan tersebut
didorong oleh terbatasnya konsumsi pemerintah seiring dengan program
penghematan anggaran.
Sementara
itu, kegiatan investasi juga masih tumbuh terbatas. Kinerja pertumbuhan ekonomi
yang masih cukup tinggi terutama ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tetap
solid. Pada tahun 2015, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi,
yaitu tumbuh pada kisaran 5,4-5,8%.
Berbeda dengan 2014, di samping tetap kuatnya konsumsi rumah tangga, tingginya
pertumbuhan ekonomi di 2015 juga akan didukung oleh ekspansi konsumsi dan
investasi pemerintah sejalan dengan peningkatan kapasitas fiskal untuk
mendukung kegiatan ekonomi produktif, termasuk pembangunan infrastruktur.
·
Faktor-faktor penentu prospek pertumbuhan
ekonomi Indonesia
Faktor-faktor
penentu prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia Secara garis besar, terdapat
sedikitnya 2 (dua) faktor yang menentukan prospek pertumbuhanekonomi di
Indonesia. Adapun kedua faktor tersebut adalah faktor internal dan eksternal.1.
Faktor
InternalKrisis ekonomi pada tahun 1998 yang disebabkan oleh buruknya
fundamentalekonomi nasional,serta lambatnya proses pemulihan ekonomi nasional
pasca peristiwa tersebut menyebabkan banyak investor asing yang enggan (bahkan hinggasampai
saat ini) menanamkan modalnya di Indonesia. Kemudian proses pemulihanserta
perbaikan ekonomi nasional juga tidak disertai kestabilan politik dan
keamananyang memadai, penyelesaian konflik sosial , serta tidak adanya
kepastian hukum.Padahal faktor-faktor non ekonomi inilah
yang merupakan aspek penting dalammenentukan tingkat resiko yang
terdapat di dalam suatu Negara untuk menjadi dasarkeputusan bagi para pelaku
usaha atau investor terutama asing, untuk melakukanusaha atau menginvestasikan
modalnya di Negara tersebut.2.
Faktor
Eksternal Kondisi perdagangan dan perekonomian regional serta dunia merupakan
faktoreksternal yang sangat penting untuk mendukung proses pemulihan ekonomi
diIndonesia. Mengapa kondisi perdagangan dan perekonomian regional atau duniatersebut
dinilai penting? Sebab, apabila
kondisi perdagangan dan perekonomian Negara-negara tersebut terutama mitra Indonesia sedang melemah, maka akan berdampak pula pada proses pemulihan yang akan semakin mengulur waktu danakibatnya
dapat menghambat kemajuan perekonomian di Indonesia.
1. Faktor-faktor
Internal
a. Factor
ekonomi, antara lain:
·
Buruknya fundamental ekonomi nasional
·
Cadangan devisa
·
Hutang luar negeri dan ketergantungan impor
·
Sector perbankan dan riil
·
Pengeluaran konsumsi
b. Faktor
non ekonomi, antara lain:
·
Kondisi politik, social dan keamanan
·
PMA dan PMDN
·
Pelarian modal ke luar negeri
·
Nilai tukar rupiah
2. Faktor-faktor
Eksternal
·
Kondisi perdagangan dan perekonomian regional atau dunia
·
Perubahan
struktur Ekonomi
Teori perubahan struktur ekonomi
menitikberatkan pada mekanisme transformasi yang dialami oleh negara-negara
sedang berkembang yang semula bersifat subsistem dan menitikberatkan pada
sektor tradisional menuju ke struktur lebih modern yang didominasi oleh
sektor-sektor non primer, khususnya industri jasa.
Cheneri meminjam isttilas Kuznets, menatakan
bahawa perubahan sturktur ekonomi, secara umum disebut sebagai transformasi
struktur yang diartikan sebagai suatu rangkaian perubahan yang saling terkait
satu sama lain dalam komposis agregat demand (AD), ekspor-impor (X
- M), Agregat supplay (AS) yang merupaka produksi dan peng
unaan faktor-faktor produksi seperti tenaga kerja dan modal guna
mendukung proses pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Ada dua teori utama yangumum digunakan dalam
menganalisis perubahan sturktur ekonomi, yakni dari Arthur Lewis tentang
migrasi dan Hollis Chenery tentang teori transportasi struktural. Teori Lewis
pada dasarnya membahasa proses pembangunan ekonomi yang terjadi di daerah
pedesaan dan daerah perkotaan. Dalamnya Lewis mengasumsikan bahwa perekonomian
suatu negara pada dasranya terbagi atas dua, yaitu perekkonomian tradisional di
pedesaan yang didominasi sektor pertanian dan perekonomian modern di perkotaan
dengan industri sebagai sektor utama.
Karena perekkonomiannya masih bersifat
tradisional dan subsistem, dan pertumbuhan pendudik yang tinggi, maka terjadi
pertumbuhan suplai tenaga kerja. Over-Supplay tenaga kerja ini
ditandai dengan produk marginalnya yang nilainya nol dan tingkat upah riil yang
rendah. Keranka pemikiran Chenery pada dasarnya sama dengan teori model Lewis.
Teori Chenery dikenal dengan teori pattern of development, dimana
dalam teori ini difokuskan pada perubahan struktur dalam tahapan proses
perubahan ekonomi di negara sedang berkembang, yang mengalami transformasi dari
pertanian tradisional ke industri sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi.
Dalam penelitianya Chenery dan Syirquin mengidentifikasi bahwa dengan
peningkatan perubahan pendapatan masyarakat per kapita membawa
perubahan ke arah konsumeristik dari penekanan pada makanan dan kebutuhan poko
lainnya ke arah barang-barang manufaktur dan jasa.
Perubahan struktur ekonomi berbarengan dengan
petumbuhan PDB yang merupakan total pertumbuhan nilai tambah dari semua sektor
ekonomi. Secara umum dalam proses pembangunan terjadi transformasi
ekonomi, dimana pangasa PDB dari sektor industri meningkat dan sektor pertanian
mengalami penurunan.
Menururt Chenery, proses transformasi
sturktural akan mencapai tarafnya yang paling cepat bila pergeseran pola
permintaan domestik ke arah output industri manufaktur diperkuat oleh perubahan
yang serupa dalam komposis perdagangan luar negri atau ekspor sebagaimana yang
terjadi di negar-negara industri baru. Sperti Korea Selatan, Taiwan, Singapura,
dan Hongkong.
REFERENSI :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar